Translate

Saturday, March 2, 2013

Jangan pernah berhenti

Penulis: Gede Prama
Sejumlah sejarahwan yakin, bahwa pidato Winston Churchill yang paling berpengaruh adalah ketika beliau berpidato di wisuda Universitas Oxford. Churchill mempersiapkan pidato ini selama berjam-jam. Dan ketika saat pidatonya tiba, Churchill hanya mengucapkan tigakata : ‘never give up’ (jangan pernah berhenti).
Sejenak saya merasa ini biasa-biasa saja. Tetapi ketika ada orang yang bertanya ke saya, bagaimana saya bisa berpresentasi di depan publik dengan cara yang demikian menguasai, saya teringat lagi pidato Churchill ini.
Banyak orang berfikir kalau saya bisa berbicara di depan publik seperti sekarang sudah sejak awal. Tentu saja semua itu tidak benar. Awalnya, saya adalah seorang pemalu, mudah tersinggung, takut bergaul dan minder.
Dan ketika memulai profesi pembicara publik, sering sekali saya dihina, dilecehkan dan direndahkan orang. Dari lafal ‘T’ yang tidak pernah lempeng, kaki seperti cacing kepanasan, tidak bisa membuat orang tertawa, pembicaraan yang terlalu teoritis, istilah-istilah canggih yang tidak perlu, serta segudang kelemahan lainnya.
Tidak bisa tidur beberapa minggu, stress atau jatuh sakit, itu sudah biasa. Pernah bahkan oleh murid dianjurkan agar saya dipecat saja menjadi dosen di tempat saya mengajar.
Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh banyak agen asuransi jempolan. Ditolak, dibanting pintu, dihina, dicurigai orang, sampai dengan dilecehkan mungkin sudah kebal. Pejuangkemanusiaan seperti Nelson Mandela dan Kim Dae Jung juga demikian. Tabungan kesulitan yang mereka miliki demikian menggunung. Dari dipenjara,hampir dibunuh, disiksa, dikencingin, tetapi toh tidak berhenti berjuang.
Apa yang ada di balik semua pengalaman ini, rupanya di balik sikap ulet untuk tidak pernah berhenti ini, sering bersembunyi banyak kesempurnaan hidup. Mirip dengan air yang menetesi batu yang sama berulang-ulang, hanya karena sikap tidak pernah berhentilah yang membuat batu berlobang.
Besi hanya menjadi pisau setelah ditempa palu besar berulang-ulang, dan dibakar api panas ratusan derajat celsius. Pohon beringin besar yang berumur ratusan tahun, berhasil melewati ribuan angin ribut, jutaan hujan, dan berbagai godaan yang meruntuhkan.
Di satu kesempatan di awal Juni 1999, sambil menemani istri dan anak-anak, saya sempat makan malam di salah satu restoran di depan hotel Hyatt Sanur Bali. Yang membuat kejadian ini demikian terkenang, karena di restoran ini saya dan istri bertemu dengan seorang penyanyi penghibur yang demikian menghibur.
Pria dengan wajah biasa-biasa ini, hanya memainkan musik dan bernyanyi seorang diri. Modalnya, hanya sebuah gitar dan sebuah organ. Akan tetapi, ramuan musik yang dihasilkan demikian mengagumkan. Saya dan istri telah masuk banyak restoran dan kafe. Namun, ramuan musik yang dihadirkan penyanyi dan pemusik solo ini demikian menyentuh. Hampir setiap lagu yang ia nyanyikan mengundang kagum saya, istri dan banyak turis lainnya. Rasanya susah sekali melupakan kenangan manisbersama
penyanyi ini. Sejumlah uang tip serta ucapan terimakasih saya yang dalam, tampaknya belum cukup untuk membayar keterhiburan saya dan istri.
Di satu kesempatan menginap di salah satu guest house Caltex Pacific Indonesia di Pekan Baru, sekali lagi saya bertemu seorang manusia mengagumkan. House boy (baca : pembantu) yangbertanggungjawab terhadap guest house yang saya tempati demikian menyentuh hati saya. Setiap gerakan kerjanya dilakukan sambil bersiul. Atau setidaknya sambil bergembira dan tersenyum kecil. Hampir semua hal yang ada di kepala, tanpa perlu diterjemahkan ke dalam perintah, ia laksanakan dengan sempurna. Purwanto, demikian nama pegawai kecil ini, melakoni profesinya dengan tanpa keluhan.
Bedanya penyanyi Sanur di atas serta Purwanto dengan manusia kebanyakan, semakin lama dan semakin rutinnya pekerjaan dilakukan, ia tidak diikuti oleh kebosanan yang kemudian disertai oleh keinginan untuk berhenti.
Ketika timbul rasa bosan dalam mengajar, ada godaan politicking kotor di kantor yang diikuti keinginan ego untuk berhenti, atau jenuh menulis, saya malu dengan penyanyi Sanur dan house boy di atas. Di tengah demikian menyesakkannya rutinitas, demikian monotonnya kehidupan, kedua orang di atas, seakan-akan faham betul dengan pidato Winston Churchill : “ never give up .”
Anda boleh mengagumi tulisan ini, atau juga mengagumi saya, tetapi Anda sebenarnya lebih layak kagum pada penyanyi Sanur dan house boy di atas. Tanpa banyak teori, tanpa perlu menulis, tanpa perlu menggurui, mereka sedang melaksanakan profesinya dengan prinsip sederhana : “jangan pernah berhenti.”
Saya kerap merasa rendah dan hina di depan manusia seperti penyanyi dan pembantu di atas. Bayangkan, sebagai konsultan, pembicara publik dan direktur sebuah perusahaan swasta, tentu saja saya berada pada status sosial yang lebih tinggi dan berpenghasilan lebih besar dibandingkan mereka. Akan tetapi, mereka memiliki mental “never give up” yang lebih mengagumkan.
Kadang saya sempat berfikir, jangan-jangan tingkatan sosial dan penghasilan yang lebih tinggi,tidak membuat mental “never give up” semakin kuat.
Kalau ini benar, orang-orang bawah seperti pembantu, pedagang bakso, satpam, supir, penyanyi rendahan, dan tukang kebunlah guru-guru sejati kita.
Jangan-jangan pidato inspiratif Winston Churchill- sebagaimana dikutip di awal - justru diperoleh dari guru-guru terakhir.

Renungan hidup

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan;
tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!
Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.
Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.
Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur’an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yanglaris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid
Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.
Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saatterakhir untuk event yangmenyenangkan.
Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur’an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.
Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainyatidak perlu untuk percaya atau berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa.


Friday, March 1, 2013

6 hal yg membuat anda malas bekerja

Seringkali kita merasa kurang mood saat bekerja. Padahal setiap hari, kita bisa saja menghadapi tantangan yang tak terduga. Bahkan setiap hari kita akan dihadapkan pada rutinitas yang membosankan. Mengapa seringkali kita merasa malas, kurang mood dan tidak bersemangat? Rupa-rupanya hal ini yang menjadi penyebabnya.
.
1. Tanggal Tua
Pertengahan bulan hingga tanggal gajian tiba adalah saat yang riskan bagi karir Anda. Pada masa ini biasanya semangatagak layu dan ide kurang tergali dengan baik. Sehingga jarangmembuat Anda mengeluarkan kreativitas dan improvisasi. Ubah mindset Anda, manage keuangan bulanan. Gunakan secukupnya dan Anda tak akan merasa kekurangan.
.
2. Terlalu Kenyang
Terlalu banyak makan atau terlalu intens makan-minum-makan-minum membuat pencernaan Anda bekerja keras. Sebagaimana orang yang kekenyangan, hal ini bisa membuat Anda merasa ngantuk dan malas. Makanan yang baik dikonsumsi berulang adalah bahan buah atau sayur, dibandingcemilan ringan hingga berat. Kontrol juga porsi makanan Andaagar tak membuat Anda kekenyangan.
.
3. Stres
Salah satu pemicu kemalasan adalah ketika Anda banyak pikiran. Saat stress, tubuh lebih meronta untuk diistirahatkan. Lakukan refreshing dan terapi sederhana dengan mencari lokasi yang nyaman untuk menghirup udara segar.
.
4. Terjebak rutinitas
Ups, apakah hidup Anda terjebak rutinitas? Kerja, pulang, kerjalagi, pulang lagi? Hey, mana waktu buat Anda? Coba evaluasi, apa yang membuat Anda merasa tak punya waktu sehingga waktu Anda habis hanya dalam pekerjaan. Sempatkan waktu untuk bersosialisasi. Nikmati hubungan dengan teman kerja, sesekali telepon teman lama Anda dan nikmati waktu liburan yang harusnya Anda nikmati.
.
5. Gaya Hidup
Bisa jadi, semua ini berakar dari gaya hidup Anda. Sekalipun sesederhana kurang rajin minum air putih maupun jarang bergerak. Olahraga mungkin terkesan sebagai aktivitas fisik yang berat. Padahal dengan melakukannya, Anda bisa melepas penat, membugarkan tubuh dan merasa lega. Semakin sering Anda menjaga gaya hidup agar lebih sehat, semakin lega dan tenang dalam hidup. Ide pun bisa mengalir dengan lancar saat bekerja.
.
6. Tidak Cocok
Ini adalah masalah paling umum. Sekalipun sebenarnya Anda bisa bekerja dengan baik dengan bidang yang tak begitu Anda sukai, namun passion tetap dibutuhkan dalam bekerja. Bila Anda tak kunjung menemukan passion di bidang ini, mungkin sudah saatnya cari pekerjaan lain.
Jangan biarkan hidup mengontrol Anda, Ladies. Andalah yang memegang kendali untuk kehidupan yang penuh petualangan ini. Semoga bermanfaat.
.
Sumber : www.vemale.com